Wednesday, 6 April 2016

Buanglah sampah pada tempatnya. Lantiklah guru di tempatnya. Mohon maaf jika kedua kalimat ini saya sandingkan. Keduanya sengaja saya gandengkan karena terinspirasi dengan terobosan Wali Kota Makassar, Danny Pomanto, yang melantik ratusan kepala sekolah di Tempat Pembuangan Akhir Sampah (TPA), di Antang, Makassar, Rabu (30/3/2016).

Jika Wali Kota yang ahli tata kota itu memilih TPA sebagai lokasi pelantikan kepala sekolah hasil lelang jabatan, tentu bukan tanpa alasan untuk membenarkan keputusannya. Sama seperti ketika memilih Pelabuhan Paotere sebagai tempat untuk melantik kepala SKPD yang juga terpilih melalui lelang jabatan, Februari tahun lalu. Hanya saja, pelantikan kepala sekolah di TPA ini memantik protes bernada sinis. Walau pertanyaan itu hanya sebatas “menggugat” karena bagaimana pun itu sudah dilakukan.

Kelompok yang sinis menyebut, pelantikan para pahlawan tanpa tanda jasa itu di antara gunungan sampah yang menebar aroma kurang sedap itu sebagai sebuah pelecehan profesi guru yang seharusnya didudukkan pada posisi pantas sebagai garda terdepan penyedia calon penerus generasi bangsa. Sebagai pendidik yang membekali calon pelanjut generasi yang diharapkan membangun negeri menjadi lebih baik.

Terlalu mengada-ada mencari kaitan antara pelantikan kepala sekolah dengan tempat pembuangan sampah. Tidak ada alasan yang bisa digunakan membenarkan tindakan itu, karena guru tidak terlibat langsung dengan penanganan sampah. Meskipun para guru itu merupakan salah bagian dari produsen sampah dari rumah-rumah mereka.

Berbeda halnya jika yang dilantik di tempat itu adalah para lurah yang memang menjadi penanggung jawab untuk menyukseskan aneka program Wali Kota Makassar terkait kebersihan yang dikampanyekan. Mulai dari Lisa alias lihat sampah ambil, hingga Makassar tidak rantasak untuk mewujudkan Kota Makassar dua kali tambah lebih baik.

Niat baik kadang dianggap keliru bin ganjil jika diterapkan pada waktu dan tempat yang kurang tepat. Bisa jadi, Wali Kota Danny sudah menyadari bahwal langkahnya melantik kepala sekolah di TPA akan memanen kritik dari warga, namun itu menjadi salah satu cara untuk menunjukkan komitmemennya kepada warga bahwa soal sampah merupakan tanggung jawab bersama. Termasuk para kepala sekolah. Minimal mereka bisa menularkan kepada murid di lingkungan sekolah masing agar hidup bersih. Tidak membiarkan sampah berserakan. Baik di sekolah maupun di rumah masing-masing.

Lalu akan adakah pengaruh pemilihan lokasi palantikan kepala sekolah itu dengan kebersihan lingkungan sekolahnya? Hanya waktu yang akan membuktikan.*****

Mau Mulai Bisnis dengan Modal Kecil? SMS ke 0813 5505 2048 - PIN 7D3F47E5

0 comments:

Post a Comment