Monday, 11 May 2015

Kehebatan dua siswa kelas XII IPA Plus SMA Negeri 1 Bantaeng yang mampu meraih medali emas Olimpiade Sains Terapan Dunia ke-3 ternyata tidak menjamin kedua siswa bersangkutan diterima atau lulus dalam Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SNMPTN) tahun 2015.

Dalam olimpiade sains yang dimenangkannya, kedua siswa tersebut menyingkirkan sejumlah pesaing dari 29 negara. Namun kemampuan itu belum cukup menjadi jaminan untuk diterima di perguruan tinggi negeri pilihan mereka. Terbukti, nama keduanya, tidak ditemukan di antara 137.005 orang yang dinyatakan lulus SNMPTN tahun 2015.

Untuk melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi favoritnya, Irham Syarief yang anak seorang petani penggarap sawah itu memilih Fakultas Teknik Industri di Universitas Gajah Mada (UGM) Jogjakarta, sedang rekannya, Ahmad Abrar memilih Teknik Sipil dan Lingkungan Institut Teknologi Bandung (ITB). Namun mereka harus mengurut dada dan banyak bersabar karena tidak termasuk yang dinyatakan lulus saringan masuk di perguruan tinggi idamannya.

Bukan nasib mereka untuk menjadi mahasiswa di perguruan tinggi favoritnya. Paling tidak untuk saat jika acuannya adalah nama-nama yang sudah diumumkan di media. Medali emas yang diraihnya cukuplah menjadi penghias lemari sebagai bukti sekaligus kebanggaan bahwa dia pernah menjadi yang terbaik. Menjadi juara olimpiade sains yang diikuti siswa dari 29 negara.

Ketika keduanya naik podium untuk menerima medali emas, mereka banjir pujian dari berbagai pihak. Bahkan, menurut pengakuan guru pembimbing mereka, menteri pendidikan sudah menjanjikan akan memberi bea siswa hingga jenjang S3. Alasannya, karena mereka sudah menjadi peneliti muda. Tapi itu dulu, ketika merebut medali dan mengharumkan nama sekolah, daerah, dan tentu saja negaranya. Sekarang? Semua sudah tahu mereka tak lulus SNMPTN. Masih adakah peluang buat mereka masuk perguruan tinggi favoritnya? Hanya pengelola perguruan tinggi yang bisa menjawabnya.

Standar kelulusan SNMPTN tentu saja sudah baku. Sistem penerimaan tentu sudah digodog sedemikan rupa dengan harapan bisa menyaring siswa yang benar-benar berbakat dan memiliki kemampuan akademik lebih dibanding yang lainnya. Yang pasti, menarik ditunggu bagaimana kelanjutan pendidikan kedua peneliti muda tersebut. Apakah mereka bakal mendapat perlakuan khusus sebagai peneliti muda? Atau membiarkan mereka menyalurkan bakatnya di perguruan tinggi swasta. Toh sudah ada janji bea siswa dari sang menteri.*****

Mau Mulai Bisnis dengan Modal Kecil? Hub 0813 5505 2048 - PIN 7D3F47E5

0 comments:

Post a Comment