Thursday, 27 June 2013

Ajal adalah ketentuan Allah yang dirahasiakan waktunya. Namun, ketika membaca media yang menyebut seorang bocah berusia satu tahun lebih wafat setelah ditolak untuk dirawat oleh empat rumah sakit karena yang bersangkutan anak orang miskin, perasaan sedih, kecewa, dan jengkel menyatu mengisi nyaris seluruh relung kalbu. Kemana perginya janji kesehatan gratis yang diagung-agungkan itu?????

Meninggalnya balita bernama Revan memang sudah takdir yang harus dijalani sesuai ketentuanNYA. Yang mengecewakan adalah perlakuan rumah sakit dalam menangani yang bersangkutan. Revan ditolak karena orang tuanya pengguna kartu Jamkesda. Jika itu benar, pemerintah provinsi yang mendengung-dengungkan kesehatan gratis untuk warga miskin harus segera bertindak agar persoalan serupa tidak muncul lagi di kemudian hari. Tidak ada lagi Revan yang lain.

Penolakan untuk merawat Revan dengan alasan tidak ada tempat yang kosong patut diuji kebenarannnya. Karena kuat dugaan, alasan itu hanya reaksi atas pengakuan orang tua Revan sebagai pemegang kartu Jamkesda. Artinya, Revan akan dirawat tanpa mengeluarkan biaya sendiri sehingga rumah sakit enggan melakukannya dengan sejumlah alasan pembenaran yang menyertainya.

Tidak sulit untuk menguji kebenaran alasan tersebut, karena rumah sakit yang disebut-sebut menolak adalah rumah sakit yang punya nama. Dan tentu saja memiliki manajemen yang cukup bisa diandalkan. Data tentang daya tampung rumah sakitnya dengan jumlah pasien saat itu tentulah valid.

Kita tunggu keseriusan dan keberanian pemerintah untuk menjadikan kasus meninggalnya Revan ini sebagai pembuktian bahwa program KESEHATAN GRATIS bukanlah pepesan kosong alias bualan angin surga saja.

Rasanya, investigasi merupakan langkah yang paling tepat. Bukannya langsung membela diri dengan sejumlah dalih yang sungguh tidak akan dipercaya oleh warga yang sudah mulai cerdas melihat “akrobat” pembenaran atas kesalahan yang dilakukan orang yang seharusnya bertanggung jawab.

Menarik ditunggu, apa yang akan dilakukan oleh pemerintah daerah ini. Apakah sekadar datang ke rumah duka menyatakan keprihatinan atau justru sama sekali tidak muncul karena merasa tidak bersalah atas musibah yang menimpa bocah yang orang tuanya pemegang Kartu Jamkesda.(Rusdy Embas)

0 comments:

Post a Comment