Tuesday, 13 July 2010

Para ahli kesehatan seduani yang sedang berkumpul di Stockholm, Swedia, mengingatkan mereka yang masuk kategori kegemukan atau obesitas, khususnya yang masih berusia 20 tahun. Dalam Kongres Obesitas Internasional itu para ahli mengungkapkan sejumlah hasil peneltian yang mengaitkan risiko kematian dan kegemukan di usia muda.
Kantor berita OANA merilis, suatu riset yang dilakukan ilmuwan dari Institute of Preventive Medicine, Copenhagen University Hospital, Denmark menyimpulkan pria yang mengidap obesitas pada usia 20 tahun menghadapi risiko dua kali lipat meninggal secara prematur.

Studi yang dipimpin Esther Zimmermann itu dilakukan dengan cara memantau perkembangan 5.000-an pria yang mengikuti wajib militer sejak usia 20 hingga 80 tahun. Zimmermann dan timnya membandingkan angka kematian 1.930 pria wajib militer pengidap obesitas dengan sampel acak 3.601 pria prajurit non-obesitas.
Indeks Massa Tubuh (BMI) pria diukur pada rata-rata usia 20, 35 dan 46 tahun, dan perkembangannya terus dipantau hingga mereka meninggal. Tercatat 1.191 pria meninggal selama masa pemantauan hingga 60 tahun kemudian.
"Temuan kami memperlihatkan bahwa pada setiap usia, seorang pria obesitas memiliki kemungkinan dua kali lipat meninggal dibandingkan pria yang tidak obesitas, dan kegemukan pada usia 20 tahun memberi pengaruh yang konstan hingga 60 tahun kemudian," kata Zimmerman.
Tim peneliti juga menemukan perubahan kematian dini meningkat hingga 10 persen pada pria dengan BMI di atas ambang bobot sehat dan itu berlangsung terus sepanjang hidup, dimana pria yang obesitas akan meninggal delapan tahun lebih cepat dibanding pria non-obesitas.

"Studi kami memberi petunjuk bagaimana kegemukan pada usia 20 tahun mempengaruhi kegemukan sepanjang hidup kala dewasa. Itu adalah studi pertama dengan masa pemantauan yang begitu panjang dan menjadi studi pertama yang menyelidiki dampaknya seumur hidup," kata Zimmermann.(rusdy embas)

0 comments:

Post a Comment