Friday, 16 August 2013

Bagi banyak orang, Lebaran selalu menjadi momentum untuk mengenang masa silam di kampung halaman. Dan itu merupakan salah satu bagian terunik saat mudik, selain bertemu dan mempererat tali silaturahim dengan keluarga dan handai tolan.

Lebaran tahun ini, juga menjadi kenangan tersendiri bagi saya. Keceriaan dua putra saya yang sementara bermain di laut tempat saya bermain, semasa kecil dulu, membangkitkan kenangan terhadap laut yang terletak tepat di depan rumah orang tua. Itu karena kediaman orang tua saya dengan laut hanya diantarai jalan raya menuju Tanjung Bira yang popular dengan hamparan pasir putihnya.

Sambil mengamati anak saya bermain bola dengan anak seusianya di tepi pantai, saya seolah menyaksikan diri sendiri saat bermain di tempat yang sama, beberapa tahun silam. Meski dengan alat permainan dan suasananya yang sungguh amat berbeda.

Persamaannya, hanyalah keceriaan menikmati anurgerah alam terindah yang dihamparkan Allah di ujung selatan Pulau Sulawesi itu. Meski pasirnya tidak seputih dengan pasir di Pantai Bira, namun jejeran perahu berbagai ukuran yang sementara dalam proses penyelesaian para panrita lopi tetap saja melengkapi kekaguman saya terhadap daerah tersebut. Tempat saya dan teman seusia menghabiskan masa kanak-kanak.

Perbedaannya? Itu yang membuat saya sangat miris. Pantai yang dulu relatif bersih dan di beberapa tempat masih ditumbuhan tumbuhan khas pantai seperti pohon waru, cukup bersih, kini sudah sangat berbeda jauh. Sampah pelastik berserakan di banyak tempat. Pecah beling juga terdapat di sejumlah tempat sehingga cukup membahayakan anak-anak yang sedang bermain.

0 comments:

Post a Comment