Sunday, 6 April 2014

Masa kampanye mobilisasi massa secara terbuka Pemilihan Umum 2014 sudah berakhir sejak Sabtu (5/4/2014). Sejatinya, beberapa hari ke depan hingga hari H pencoblosan, merupakan minggu tenang. Tak ada lagi aktivitas kampanye dan sejenisnya bagi partai politik peserta pemilu. Tetapi mengapa banyak yang justru tegang?

Ketua Panwas Makassar bahkan kepada media bercerita bahwa lembaganya yang berusaha menghentikan caleg yang bagi-bagi sembako kepada rakyat di masa tenang itu justru diusir oleh sekelompok warga salah satu kecamatan di Makassar karena dinilai menghalangi rezeki warga setempat.

Kalo insiden itu benar terjadi, seharusnya tindakan tegas segera diambil dan dilakukan secara terpadu dengan melibatkan semua unsur terkait penyelenggaraan pemilu yang jujur dan beretika. Panwas jangan berhadap-hadapan dengan warga, tetapi caleg yang kedapatan bagi-bagi sembako itulah yang ditindaki. Jangan hanya mengeluh ke media. Buat rekomendasi agar caleg bersangkutan didiskualifikasi.

Bahkan, jika aturan memungkinkan, pasang foto caleg bersangkutan lengkap dengan penjelasan tentang tindakan tidak terpuji yang dilakukannya sebagai calon wakil rakyat. Sebab, bagaimana mungkin berharap banyak dari manusia seperti itu. Kelakuannya membagi-bagi sembako di masa tenang justru menunjukkan siapa dirinya. Seorang pengecut yang tidak layak mendapat mandat sebagai wakil rakyat.

Caleg seperti itu layak mendapat hukuman sosial. Biarkan rakyat menghukumnya dengan tidak memilihnya. Tak elok memberi tempat dan waktu untuk duduk di gedung parlemen dengan predikat Yang Terhormat kepada orang seperti itu. Sebab tindakannya itu sungguh sangat tidak terpuji. Melakukan tindakan yang tidak layak dan tidak etis sebagai calon wakil rakyat. Dan itu menunjukan ketidakmampuannya memenangkan hati rakyat dengan cara-cara yang beretika.

Rebut Peluang Usaha Bermodal Kecil Hanya Rp 635 ribu

0 comments:

Post a Comment